Sabtu, 04 April 2015

CARA BERTANAM HIDROPONIK

Hidroponik adalah cara bertanam menggunakan air. Namun bukan sembarang air yang digunakan.
Air tersebut telah dicampur dengan nutrisi atau pupuk hidroponik. Pupuk hidroponik terdiri-dari
unsur makro dan unsur mikro yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur makro adalah unsur-unsur
yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, sedangkan unsur mikro adalah unsur-unsur yang dibutuhkan
dalam jumlah sedikit.

Berikut adalah beberapa system hidroponik:

  1. Sistem sumbu (Wicks system)
Hidroponik sistem sumbu/wicks












Wick system merupakan system yang sangat baik bagi pemula, karena sangat mudah
dalam mengaplikasikannya. Nutrisi mengalir ke akar tanaman dengan bantuan sumbu
melalui gayakapiler. Sistem ini dapat juga menggunakan air pump untuk menciptakan
gelembung udara dalam bak. Namun tanpa air pump juga tidak masalah.
Karena system ini adalah system pasif (air tidak mengalir), hal yang perlu diperhatikan 
adalah jentik nyamuk yang sering bersarang di dalam bak. Untuk mengatasi hal ini cek 
air nutrisi dalam bak setiap satu minggu sekali, dan buang jentik nyamuk. Stadium jentik 
nyamuk kurang lebih 1 minggu dan stadium pupa sekitar 12 hari. Pupa adalah stadium 
terakhir nyamuk dalam air. Cara lain untuk mengatasi jentik adalah dengan memelihara 
ikan cupang di dalam bak.

Hidroponik sistem wicks












  1. Sistem rakit apung ( The Raft System)














Tanaman diapungkan ke dalam nutrisi menggunakan Styrofoam. Hidroponik ini
sangat mudah diterapkan. Untuk skala bisnis biasanya system ini dilengkapi
dengan air pump untuk membantu suplai oksigen. Namun untuk skala hobi tanpa 
air pump pun masih bisa diterapkan.



Hidroponik Rakit apung tanpa pompa













  1. Sistem NFT (The Nutrient Film Technique)
Contoh NFT
Sistem NFT banyak diadopsi oleh perkebunan hidroponik skala bisnis. Air nutrisi yang mengalir mengenai perakaran tanaman setipis film. Dalam system ini dibutuhkan pompa untuk sirkulasi air nutrisi. Tanaman diletakan kedalam talang atau pipa pvc, kemudian dilirkan nutrisi. Nutrisi akan mengalir dari satu unjung talang ke ujung talang lainnya dan ditampung, dari penampungan nutrisi dialirkan kembali ke talang secara terus menerus.


  1. Metode Dutch Bucket
Metode ini banyak digunakan untuk menanam tomat. Pot-pot diisi dengan media
tanam perlite, zeolit atau hidroton. Nutrisi dialirkan melalui pipa dan selang kecil
menggunakan pompa. Air nutrisi mengalir dari  permukaan pot    menuju  bawah
pot mengenai perakaran tanaman. Pot bagian bawah tidak berlubang. Pot dilubangi  
dibagian samping dan dipasangi pipa untuk mengalirkan sisa nutrisi menunju  
penampungan. Nutris dalam penampungan ini akan dipompakan kembali ke 
dalam pot-pot secara terus menerus.

  1. Metode Drip Irrigation
Metode ini menggunakan prinsip nutrisi diteteskan kepada media tanam. Pot-pot
diisi dengan media tanam seperti: cocopeat, sekam bakar atau campuran keduanya.
Nutrisi diangkat menggunakan pompa yang dialirkan melalui selang kecil yang
dipasangi dripper. Lama tetesan dapat disetting menggunakan timer, misalnya lama
tetesan 15 menit dan tiga kali sehari. Untuk skala hobby kita dapat memanfaatkan
botol bekas dengan plant water spikes atau botol bekas, selang kecil dan bubble set.
 
Tomat drip irrigation di Pawaka valley















  1. Aeroponik (Aerophonics)
Sistem ini menngunakan system pengkabutan nutrisi pada bagian perakaaran tanaman.
Perakaran tanaman ditempatkan mengantung, dan dibagian bawah dibuat semburan 
nutrisi tipis-tipis menggunakan pompa.

  1. Vertical Gardening
Sistem ini memanfaatkan pipa pvc, dimana tanaman ditempatkan pada sisi-sisi pipa
yang diposisikan berdiri (menggantung). Kemudian nutrisi dialirkan melalui pipa dan
 selang kecil dari atas pipa sehingga nutrisi mengalir karena gaya gravitasi kebawah
menuju penampungan, yang kemudian dipompa kembali ke bagian atas pipa.

Sumber : http://sayasukahidroponik.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar