Selasa, 23 Juni 2015

CARA MEMBUAT EFEKTIFITAS MIKROORGANISME DAUN BAMBU (EMB)

Oleh: Nawarudin, Jurusan Agroteknologi Faperta-Universitas Riau

Mikroorganisme pada serasah daun bambu dapat dikembangkan sebagai biodekomposer dari sampah organik. Mikroorganisme tersebut adalah Saccharomyces cerrevisiae dan Lactobacillus sp serta Aspergillus sp. Mikroorganisme tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dalam mengurai sampah organik maupun perannya untuk menyuburkan tanah. keunggulan dari mikroorganisme ini adalah:
1.      Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus sp)
a.    Menghasilkan asam laktat dari gula
b.   Menekan pertumbuhan jamur yang merugikan, seperti Fusariumsp.
c.    Mempercepat penguraian bahan-bahan organik.
2.      Saccharomyces cerrevisiae
a.    Membentuk zat anti bakteri
b.   Meningkatkan jumlah sel akar dan perkembangan akar.
3.      Jamur Fermentasi (Aspergillus sp)
a.    Menguraikan bahan organik (selulosa, karbohidrat) dan mengubahnya menjadi alkohol, ester, dan antimikroba.
b.   Dapat menghilangkan bau.

Adapun alat dan bahan langkah kerja pembuatan Efektivitas Mikroorganisme dari daun bambu (EMB):
Alat :
1.      Ember Plastik kapasitas 20 kg  atau kotak kayu dengan ukuran 40 cm x 60 cm
2.      Botol Kaca, Botol  Plastik tempat Sprite/Coca Cola
3.      Toples Kaca
4.      Karung
5.      Saringan
6.      Corong Plastik
Bahan  :
1.      Kapang yang terdapat pada tumpukan daun Bamboo yang sudan melapuk.
2.      Nasi
3.      Gula Merah
4.      Air


LANGKAH KERJA :
1.      Mikroorganisme diperoleh berasal dari daun bambu yang mempunyai mikroorganisme yang cukup banyak.
2.      Daun bambu yang mengandung mikroorganisme tersebut dimasukan ke dalam ember atau kotak kayu,  diisi daun bambo separuh dari volume ember/kotak.
3.      Nasi hangat dikepak beberapa bulatan dan diletakan pada daun bambu yang berada dalam ember/kotak kayu agar mikroorganisme yang berada di daun bambu  tersebut dapat pindah ke kepalan nasi.
4.      Kepalan nasi berada di dalam ember/kotak selama 3 hari, diletakan pada tempat yang gelap dan selalu ditutup rapat agar tidak terkontaminasi mikroorganisme dari luar.
5.      Setelah 3 hari buka kotak yang berisi nasi, kemudian ambil kepalan nasi tersebut jika terdapat benang  putih menempel pada permukaan nasi, itu adalah kapang, tetapi bila terdapat warna kuning / oranye  itu adalah bakteri merugikan, dan ini harus di buang.
6.      Masukkan nasi yang sudah ditempeli oleh kapang kedalam wadah / toples kaca, masing-masing toples di isi satu kepalan nasi dan tiap toples di beri gula merah sebanyak 35 gram, lalu  tambahkan air sampai i nasi tertutupi skitar  200 ml air, kemudian  tutup rapat dan letakan di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung , biarkan  selam 4 hari.
7.      Setelah 4 hari tutup wadah / toples dibuka secara perlahan,  terdapat banyak buih – buih atau gelembung – gelembung serta berbau alkhol  itu tandanya sudah jadi
8.      Saringlah larutan EMB yang sudah jadi, masukkan kedalam botol dengan mengunakan corong plastik dan simpan di tempat yang teduh dan kering.
9.      Tambahkan gula merah kedalam larutan secukupnya agar aspergillus tetap hidup.
 dian ambil kepalan nasi tersebut jika terdapat benang  putih menempel pada permukaan nasi, itu adalah kapang, tetapi bila terdapat warna kuning / oranye  itu adalah bakteri merugikan, dan ini harus di buang.
6.      Masukkan nasi yang sudah ditempeli oleh kapang kedalam wadah / toples kaca, masing-masing toples di isi satu kepalan nasi dan tiap toples di beri gula merah sebanyak 35 gram, lalu  tambahkan air sampai i nasi tertutupi skitar  200 ml air, kemudian  tutup rapat dan letakan di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung , biarkan  selam 4 hari.
7.      Setelah 4 hari tutup wadah / toples dibuka secara perlahan,  terdapat banyak buih – buih atau gelembung – gelembung serta berbau alkhol  itu tandanya sudah jadi
8.      Saringlah larutan EMB yang sudah jadi, masukkan kedalam botol dengan mengunakan corong plastik dan simpan di tempat yang teduh dan kering.
9.      Tambahkan gula merah kedalam larutan secukupnya agar aspergillus tetap hidup.


Pelatihan Budidaya Tanaman Hidroponik Mahasiswa Faperta UR


PEKANBARU, Divisi Studi dan Teknologi Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Nurul Falah bekerja sama dengan Hydroponic Community Faperta (HCF) Universitas Riau (UR) menggelar pelatihan Budidaya Tanaman Hidroponik Bagi Mahasiswa, di aula Dekanat Fakultas Pertanian Universitas Riau (UR), Sabtu (6/6/2015).“Kegiatan ini bertujuan selain untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa yang akan melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN), juga merupakan sarana untuk menambah wawasan mahasiswa khususnya mahasiswa Fakultas Pertanian UR agar bisa menjadikan budidaya tanaman hidroponik baik sebagai hobi, kegiatan sosial, ataupun untuk  dikomersialkan bagi kalangan mahasiswa,” kata Ketua HCF Nawarudin, Sabtu (6/6/2015).




Arahan dan perkenalan komunitas hidroponik Faperta UR sebelum acara dimulai
oleh Nawarudin selaku ketua HCF.

Foto bersama seusai pemberian materi hidroponik oleh Sekjur Agroteknologi.
Ket: Kiri ke kanan, Nawarudin (Ketua HCF), Ibu Ir. Murniati.MP (Sekjur Agroteknologi), Febriana (Koordinator Divisi STEK UKMI NF)

Kegiatan pengenalan dan praktikum di lapangan
Diskusi lapangan mengenai sistem hidroponik
Pemberian kenang-kenangan ketua umum UKMI Nurul Fallah Faperta (Ahmad Jihadul Ilmi) kepada ketua HCF

Foto bersama peserta dan panitia seusai acara

Member HCF


Member HCF
Hari ke-2, Kunjungan ke Kebun wisata hidroponik UIR


Kunjungan HCF Ke AGROWISATA UIR