Rabu, 01 Juli 2015

ETOS KERJA DALAM KEMANDIRIAN MASYARAKAT ISLAM

MAKALAH
(Persyaratan Advance Training Pelajar Islam Indonesia)

“ETOS KERJA DALAM KEMANDIRIAN MASYARAKAT ISLAM”









OLEH:
NAWARUDDIN


LEADERSHIP ADVANCE TRAINING (LAT)
PELAJAR ISLAM INDONESIA
SUMATRA BARAT
2012




DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA



KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah dengan judul  “ETOS KERJA DALAM KEMANDIRIAN MASYARAKAT ISLAM” dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Makalah ini berisikan tentang uraian karakter yang harus dimiliki oleh masyarakat muslim yang saat ini sudah mulai menurun agar bisa menggapai semangat untuk kembali bangkit dan menunjukkan kemandiriannya sebagai sosok masyarakat islam Indonesia yang benar-benar memiliki nilai etos kerja yang tinggi di masa globalisasi ini saat ini.
            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

            Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.








BAB I
PENDAHULUAN

            Sangat menarik mendiskusikan Islam dan ummat Islam dewasa ini. Pasalnya Islam yang dicitrakan sebagai ya’lu wa la yu’la’alaihi dan tidak ada yang menandinginya berbeda dengan kondisi ummat penganutnya (meminjam istilah Ismail Raji al-Faruqi dalam buku Islamization of knowloge, 1982) yang berada di anak tangga paling bawah dalam peradaban manusia.
Memantau perkembangan ummat islam, maka sudah selayaknyalah kita mencoba melihat aktivitasnya dari segi perekonomian yang saat ini memiliki banyak problema-problema. Setiap perekonomian sejak dulu hingga saat ini dan demikian selanjutnya ke masa depan, akan selalu membawa pada dirinya unsur-unsur yang berbeda satu sama lainnya.
Dalam berbagai masalah perekonomian masyarakat Islam Indonesia ada hal yang kini sudah terlupakan, yaitu mengenai etos kerja yang baik dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat islam Indonesia.
           














BAB II
PEMBAHASAN

A.     Permasalahan Kehidupan Dunia Kerja
Ada begitu banyak permasalahan dalam kehidupan ini. Bahkan, tak jarang masalah-masalah itu berakibat pada munculnya stress dan depresi psikologis. Di Negara maju seperti amerika, masalah pribadi seperti perkawinan dan persahabatan merupakan penyebab stress yang terbesar. Tapi di Negara miskin dan sedang berkembang seperti Negara kita tercinta ini “Indonesia” penyebab utamanya adalah krisis ekonomi yang berdampak pada bangkrutnya ratusan perusahaan, ambrukna perbankan, dan merebaknya gelombang PHK. [1]

Meski demikian bukan berarti krisis ekonomi tidak ada manfaatnya. Minimal dengan adanya krisis dapat mendewasakan masyarakat, mempertajam daya empati terhadap sesame, dan merubah gaya hidup menjadi lebih rasional; bukan konsumtif. Mereka yang terkena PHK mencoba alih pekerjaan dan membuka warung tenda, usaha catering, berdagang sembako dan lain-lain.

Hal ini sangat menyangkut dengan sebuah hadist rasulullah;  Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya: Pekerjaan apakah yang paling baik?. Beliau bersabda: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih”. (HR Al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-Hakim).

Dari hadist di atas dapat kita lihat bahwa Islam sangat menghargai kerja keras, kreatifitas maupun inovasi yang dihasilkan melalui tangan seseorang dalam melakukan pekerjaan. Islam juga mengharuskan setiap pekerjaan dilakukan secara mabrur, yakni dilakukan dengan kejujuran, kejelasan dan sesuai dengan syariat.

Kata “bekerja” mengandung arti sebagai suatu usaha yang dilakukan seseorang, baik sendiri atau bersama orang lain, untuk memproduksi suatu komoditi atau memberikan jasa. Kerja atau berusaha merupakan senjata utama untuk memerangi kemiskinan dan juga merupakan faktor utama untuk memperoleh penghasilan dan unsur penting untuk memakmurkan bumi dengan manusia sebagai kalifah seizin Allah.

B.     Kondisi Kemandirian di Indonesia

            Kemandirian saat ini, menjadi keniscayaan bagi Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Ketergantungan terhadap Negara-negara maju masih sangat kuat dalam konteks capital, market maupun teknologi. Kondisi ini menjadikan fondasi pembangunan menjadi rapuh. Kegagalan pembangunan orde lama dan orde baru terletak pada permasalahan struktur ekonomi, social, politik ataupun ketergantungan besar pada Negara-negara maju. Pendekatan teori ketergantungan (dependency) menekankan bahwa rintangan-rintangan utama telah menghambat dan merusak perkembangan ekonomi dan social merupakan rintangan-rintangan yang bersifat structural, baik yang terdapat dalam struktur ekonomi, social maupun sifat ketergantungan padakekuasaan asing.[2]

            Mewujudkan Indonesia yang mandiri bukanlah perkara mudah dan bias diciptakan dengan cepat. Kemandirian disini bukanlah melepaskan diri dari hubungan bilateral, regional atau internasional, akan tetapi berusaha menyeimbangkan hubungan dengan memperkuat daya saing melalui pilihan kebijakan social, ekonomi dan politik yang memihak pada rakyat. Berbagai upaya yang dilakukan oleh rezim-rezim masa lalu untuk membangkitkan kemandirian bangsa namun tak jua menuai harapan.

            Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, kekuatan social, politik dan ekonomi rakyat semakin terpuruk yang ditunjukkan dengan meningkatnya angka pengangguran, rakyat miskin, semakin minimnya kesempatan kerja dan indeks kualitas manusia yang semakin menurun.

C.    Level Usaha Manusia
Jika ada seseorang yang bertanya kepada anda, “Apakah Pekerjaan Anda?” apa kira-kira jawaban anda? Mungkin anda akan menjaawb; sales, guru, aktris, banker, direktur, atau dengan malu malu menjawab hanya sebagai seorang ibu rumah tangga biasa. Sah-sah saja semua jawaban anda tersebut. Meski sebenarnya apa yan anda sebagai pekerjaan belumlah tentu benar-benar sebuiah pekerjaan.[3]

Karena secara umum, berdasarkan tingkatannya, kita mengenal tujuh level usaha manusia, yaitu:
Usaha ini berpeluang untuk maju meski berapa pun lamanya anda menekuninya. Contohnya adalah para pekerja kasar.
2.      Pekerjaan.
Usaha ini bias memberikan kesempatan untuk bergerak maju apabila anda benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Contohnya adalah para pekerja kantoran dan buruh pabrik.
3.      Karir.
Usaha yang berpeluang maju meski ada batasan waktu tertentu yang terkadang sangat singkat. Contonya artis.
4.      Profesi.
Syarat untuk bias menjadi seorang professional adalah mempunyai tingkat kemahiran yang tinggi dan komitmen moral pendalaman. Contohnya dokter dan pengacara.



5.      Dagang.
Inilah dimana sebuah peluang menuju kesuksesan dan kekayaan yang langgeng dimulai. Banyak kerajaan bisnis yang berangkat dari usaha dagang kecil-kecilan atau dengan membuka usaha riumah tangga.
6.      Bisnis.
Usaha inilah  peluang terbesar anda untuk bias meraih kesuksesan. Anda tinggal memilih bisnis jenis apa yang anda ingin memiliki, apakah perusahaan perseorangan, perusahaan kemitraan, atau karporasi.
7.      Investasi.
Dengan bisnis pribadi yang anda miliki, maka melakukan strategi investasi berupa akumulasi sebagai asset riil dan financial tentu akan berjalan lebih mudah.
Firman Allah SWT:
Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk:5)

Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak sebagai manusia, paling kurang ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang dan pangan, memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya, atau membina rumah tangga dengan bekal yang cukup. Artinya, bagi setiap orang harus tersedia tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya, sehingga ia mampu melaksanakan berbagai kewajiban yang dibebankan Allah serta berbagai tugas lainnya. Untuk mewujudkan hal itu, Islam mengajarkan, setiap orang dituntut untuk bekerja atau berusaha, menyebar di muka bumi, dan memanfaatkan rezeki pemberian Allah SWT.



[1] Ahmad Riznanto,”Smart Work”,7.
[2] Fahri Hamzah,”Negara,pasar dan rakyat”,518
[3] Smart Work,”Ahmad Riznanto”,14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar