Rabu, 10 Desember 2014

Hati ini Milik Allah (sebuah catatan)

Bismillahirrohmanirrahim...
Memang berat ketika difikirkan, bahkan seringkali tak mampu akal kita menjangkaunya, apalagi dengan raga yang terbatas geraknya ini membuat bumi terasa 3 kali lebih luasnya. Hingga saat ini, membuatku mampu belajar menjaga hati dan menundukkan pandangan saja sudah suatu kenikmatan luar biasa semenjak mengenalmu, apalagi jika nantinya setiap hembusan nafas akan menjadi pahala, tetes keringat kan lebih bermakna dan setiap aktifitas kita akan menjadi ladang amalan yang tak terhingga...
Karena Allah adalah sang pemilik hati, maka jagalah hati-hati kita dari bentuk prasangka yang tak diredhoiNya, karena Allah sang pemilik waktu maka hargailah waktu hingga tak ada kekecewaan dalam menjemput keredhoanNya...
Sungguh selalu ada inspirasi terbesar yang menguatkan diri ini:


وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49).

Hati milik Allah
Dialah Yang Maha PunyaHati untuk Allah
Hati milik Allah
Dialah Yang Maha Kuasa
Begitu lemahnya kita sebagai insan
Menggunakan hati tanpa seizin-Nya
Begitu lemahnya kita sebagai hamba
Mudahnya hati menuju jurang terja

Sebuah Lirik Lagu Hati – Sigma feat. Hafiz Hamidun lagi-lagi menginspirasiku akan pentingnya menggunakan hati.
Duhai sang pemilik hati, jika kau izinkan hati ini mencintai makhlukMu, dekatkan dahulu hatiku padaMu, agar ada keberkahan dalam sebuah penantian ini.
Duhai sang pemilik hati, tunjukkan aku bagaimana caranya menjaga hatiMu ini, agar tahan terhadap ujianMu, sabar dengan ketentuanMu, hingga mengantarkanku pada kenikmatan dunia dan Akhirat yang abadi... Amiin ya Rabbil Alamiin.

Minggu, 02 November 2014

Keajaiban Air

"Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup." (QS. Al Anbiya : 30).
Dalam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. Tetapi di Jepang, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air.

Air murni dari mata air di Pulau Honshu dido'akan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5 derajat C di laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah.

Percobaan diulangi dengan membacakan kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)" di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, "Arigato". Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.

Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan do'a Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah.

Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu.

Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca" tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.

Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang dido'akan bisa menyembuhkan si sakit.

Dulu, hal tersebut kita anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan do'a kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit.

Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih galon di rumah, bisa setiap hari dido'akan dengan khusyu kepada Allah, agar anak yang meminumnya shaleh, sehat, dan cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah.

Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu kota dido'akan dengan serius untuk keshalehan, insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas.

Rasulullah SAW bersabda, "Zamzam lima syuriba lahu", "Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya." Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh.

Subhanallah... Pantaslah air zamzam begitu berkhasiat, karena dia menyimpan pesan do'a jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim AS.

Bila kita renungkan berpuluh ayat Al-Qur'an tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air. Bahwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia. Islam adalah agama yang paling melekat dengan air.

Shalat wajib perlu air wudhu 5 kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib mandi. Mati pun wajib dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada yang dibakar.

Tetapi kita belum melakukan dzikir air. Kita masih perlakukan air tanpa respek. Kita buang secara mubazir, bahkan kita cemari. Astaghfirullah.

Seorang ilmuwan Jepang telah merintis. Ilmuwan muslim harus melanjutkan kajian kehidupan ini berdasarkan Al-Qur'an dan hadits. Wallahu a'lam.

Sabtu, 01 November 2014

Apa Kabar,,?,,,

     Apa kabar ? Hari ini adalah hari yang menyenangkan. Karena kehidupan selalu penuh warna, bagai pelangi yang muncul setelah hujan. Keragaman dan dinamika merupakan elemen- elemen yang diperlukan agar terbentuk keserasian dan keharmonian. Warna kehidupan yang selalu berubah dan tak dapat diduga adalah hidup itu sendiri. Mengalir, melaju menurut garis iradat yang telah dulu ada, jauh sebelum kita dapat memahami makna hidup itu sendiri. Ianya adalah patuh dan setia dan tak pernah dusta. Tinggal lagi apakah kita akan hanya duduk berpangku tangan menunggu sapanya? Atau harusnya kita bangkit berdiri, bergerak dan berlari menjemputnya?
      Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan sesuatu perubahan jika kita tidak merencanakan dan membuat perubahan itu sendiri. Maka bangkit dan buat perubahan agar engkau dapat merasakan warna lain dalam kehidupanmu. Agar engkau dapat merasakan keberagaman pelangi  hidupmu. Agar tak pernah ada penyesalan yang datang pada dirimu kelak, ketika tiba saatnya pelangi harus undur diri dari  langit biru kehidupanmu.takkan pernah ada penyesalan apakah setelah itu langit kan berganti warna menjadi putih, kelabu atau hitam pekat sekalipun. Karena setelah gerakmu masih ada gerak lain yang senantiasa berdenyut mengiringimu, mendampingimu dan menjemputmu. Itulah garis iradatmu. Maka hanya sikap tawaqalmu yang hanya akan dapat mengantarkanmu kepada keindahan warna pelangi kehidupan hakiki. Dunia dan akhirat. :-)

Kamis, 23 Oktober 2014

Penyakit Lisan...

Kemampuan berbicara adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, untuk berkomunikasi dan menyampaikan keinginan-keinginannya dengan sesama manusia. Ungkapan yang keluar dari mulut manusia bisa berupa ucapan baik, buruk, keji, dsb.
Bahaya yang ditimbulkan oleh mulut manusia sangat besar, dantidak ada yang dapat menahannya kecuali diam.
Ketika Rasulullah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasul menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanyatentang penyebab masuk neraka,Rasul menjawab : “dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan” (HR. At-Tirmidzi)

Beberapa macam bahaya lisan, yaitu :
1. Berbicara sesuatu yang tidak perlu.
Rasulullah SAW bersabda : “Di antara ciri kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan” (HR At Tirmidzi)
Ucapan yang tidak perlu adalah ucapan yang seandainya anda diam tidak berdosa, dan tidak akan membahayakan diri maupun orang lain.

2. Fudhulul-Kalam ( Berlebihan dalam berbicara)
Perbuatan ini dikategorikan sebagai perbuatan tercela. Ia mencakup pembicaraan yang tidak berguna, atau bicara sesuatu yang berguna namun melebihi kebutuhan yang secukupnya.

3. Al Khaudhu fil bathil (Melibatkan diri dalam pembicaraan yang batil)
Pembicaraan yang batil adalah pembicaraan ma’siyat, seperti menceritakan tentang perempuan, perkumpulan selebritis, dsb.

4. Al Jidal (Berbantahan dan Perdebatan)
Perdebatan yang tercela adalah usaha menjatuhkan orang lain dengan menyerang dan mencela pembicaraannya, menganggapnya bodoh dan tidak akurat.

5. Al Khusumah (pertengkaran)
Jika orang yang berdebat menyerang pendapat orang lain untuk menjatuhkan lawan dan mengangkat kelebihan dirinya. Maka al khusumah adalah sikap ingin menang dalam berbicara (ngotot) untuk memperoleh hak atau harta orang lain, yang bukan haknya.

6. Taqa’ur fil-kalam (menekan ucapan)
Taqa’ur fil-kalam maksudnya adalah menfasih-fasihkan ucapan dengan mamaksakan diri bersyaja’ dan menekan-nekan suara, atau penggunaan kata-kata asing. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat, adalah orang-orang yang buruk akhlaknya di antara kamu, yaitu orang yang banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”. (HR. Ahmad)

7. Berkata keji, jorok dan caci maki.
Berkata keji, jorok adalah pengungkapan sesuatu yang dianggap jorok/tabu dengan ungkapan vulgar, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan seksual, dsb. Hal ini termasuk perbuatan tercela yang dilarang agama.

8. La’nat (kutukan)
Penyebab munculnya kutukan pada sesama manusia biasanya adalah satu dari tiga sifat berikut ini, yaitu : kufur, bid’ah dan fasik.
“Sesungguhnya orang-orang yang saling mengutuk tidak akan mendapatkan syafaat dan menjadi saksi di hari kiamat” (HR. Muslim)

9. Ghina’ (nyanyian) dan Syi’r (syair)
Syair adalah ungkapan yang jika baik isinya maka baik nilainya, dan jika buruk isinya buruk pula nilainya. Hanya saja tajarrud (menfokuskan diri) untuk hanya bersyair adalah perbuatan tercela. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya memenuhi rongga dengan nanah, lebih baik dari pada memenuhinya dengan syair” (HR.Muslim)

10. Al Mazah (Sendau gurau)
Secara umum mazah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama, kecuali sebagian kecil saja yang diperbolehkan. Sebab dalam gurauan sering kali terdapat kebohongan, atau pembodohan teman. Gurauan yang diperbolehkan adalah gurauan yang baik, tidak berdusta/berbohong, tidak menyakiti orang lain, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan.

11. As Sukhriyyah (Ejekan) dan Istihza’( cemoohan)
Sukhriyyah berarti meremehkan orang lain dengan mengingatkan aib/kekurangannya untuk ditertawakan, baik dengan cerita lisan atau peragaan di hadapannya.

12. Menyebarkan rahasia.
Menyebarkan rahasia adalah perbuatan terlarang. Karena ia akan mengecewakan orang lain, meremehkan hak sahabat dan orang yang dikenali. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalah orang laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia ceritakan rahasianya”.(HR. Muslim)

13. Janji palsu
Mulut sering kali cepat berjanji, kemudian hati mengoreksi dan memutuskan tidak memenuhi janji itu. Sikap ini menjadi pertanda kemunafikan seseorang.

14. Bohong dalam berbicara dan bersumpah.
Berbohong dalam hal ini adalah dosa yang paling buruk dan cacat yang paling busuk.

15. Ghibah (Bergunjing)
Ghibah adalah perbuatan tercela yang dilarang agama. Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat tentang arti ghibah. Jawab para sahabat: ”Hanya Allahdan Rasul-Nya yang mengetahui”. Sabda Nabi: “ghibah adalah menceritakan sesuatu dari saudaramu, yang jika ia mendengarnya ia tidak menyukainya.” Para sahabat bertanya : “Jika yang diceritakan itu memang ada? Jawab Nabi :”Jika memang ada itulah ghibah, jika tidak ada maka kamu telah mengada-ada” (HR. Muslim)